Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue Pointer), progress;} a:hover {cursor: url(Blue Tiny Hand Bow Tie), progress;}

-->

Sabtu, 05 November 2011


This is Menjangan Island

Pulau Menjangan


Kamis, 18 November 2010

puisi


mungkin hidupku bagaikan langit mendung, yang gelap, kacau
dan sbentar lagi akan menangis meneteskan rintik-rintik hujan
tapi, setelah tetesannya basahi semua pelangi yang indah akan muncul
sama halnya dengan hidupku
setelah semua kesedihan ini, sesuatu yang indah kan hiasi hidupku yang kelam
layaknya pelangi yang hiasi langit setelah ia menangis
I ALWAYS BELIEVE THAT

Sabtu, 13 November 2010

cerpen "Teka-teki Cinta"

Teka-teki Cinta

Suara riuh tepuk tangan dan teriakan dari para siswa terdengar begitu ramai. Kini kegembiraan akhir pekan para siswa SMP Violet terasa begitu lengkap dengan diumumkannya rencana kegiatan perkemahan / camping. Kegiatan yang bertemakan back to nature ini akan dimulai hari Senin depan.

Kegembiraan tersebut dirasakan oleh semua siswa, tak terkecuali Aira dan Vio. Gadis cerdas kelas 3 SMP yang memiliki nama lengkap Aira Neviana Putri ini memiliki banyak hobi. Sosok manis dan ramah Aira membuat ia disukai oleh banyak orang. Aira mempunyai sahabat karib bernama Vio. Violita, itulah namanya. Mereka sudah berteman hampi 3 tahun, persahabatan mereka terjalin semenjak masuk ke SMP.

Senja di tengah indahnya taman bunga, Aira sibuk menatap langit. Selain hobi dengan dunia maya ia juga hobi melihat awan di taman dekat rumahnya. Hobinya itu memang tergolong aneh, tapi sahabat dekatnya tetap saja mau menemani ia mlakukan hobi itu.

Biasanya saat ia melihat awan tercipta senyum manis dari bibir mungilnya itu, tapi kali ini matanya malah terlihat penuh beban seperti sedang ada masalah. Vio yang menyadari keanehan itu langsung meluncurkan pertanyaan demi pertanyaan padanya. “Ra, kamu kenapa sih? Kamu sakit ya?Lagi ada asalah ya? cerita dong sobat, ” tanya Vio. Aira terkaget dan tersadar dari lamunannya. Ia langsung menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa hari yang lalu ia baru saja berkenalan dengan seorang laki-laki yang dikenalnya melalui dunia maya. Dio, begitulah namanya. Baru saja mereka berkenalan, Dio langsung memintanya untuk menjadi sahabatnya. Sikap Dio yang sangat terbuka membuatnya tak bisa menolak. Tapi belakangan ini Dio sudah tidak pernah muncul lagi di dunia maya. Saat Dio muncul lagi di dunia maya awalnya tidak terasa aneh bagi Aira, tapi tiba-tiba saja Dio mengatakan bahwa ia menyukainya. Aira sangat kaget mendengar pengakuan itu dan langsung menolaknya secara baik-baik. Maklum saja Aira masih belum ingin pacaran, ia hanya ingin berkonsentrasi pada ujian yang sudah dekat. Setelah kejadian itu Dio kembali menghilang. “Mungkin dia perlu waktu untuk menenangkan diri” batinnya.

Sekarang tibalah saat yang mereka nanti-nantikan. Perjalanan menuju tempat kemah diwarnai dengan banyak aksi dari para siswa. Mulai dari bernyanyi, main gitar, bahkan ada yang menari-nari di dalam mobil.

Kegiatan pertama yang mereka lakukan setelah tiba di tempat tujuan adalah mendirikan tenda, dan dilanjutkan dengan istirahat. Hari-hari menyenangkan Aira pun dimulai. Tapi begitu memasuki malam pertama semuanya berubah. Aira tiba-tiba menemukan bunga tulip di dalam tasnya. Sesaat setelah itu ia melihat tulisan dari Dio di dunia maya, ia menanyakan pada Aira apakah ia sudah menerima bunga tulip darinya atau belum. Selain itu Dio juga mengucapkan selamat bersenang-senang dan agar ia menunggu deretan kejutan yang akan Dio berikan. “Jadi orang yang memberiku bunga ini adalah Dio? Bukannya Dio itu adalah anak dari luar kota? Lalu kenapa ia bisa tau sekolahku mengadakan kemah? Lalu bagaimana cara ia memberiku bunga ini?,” beribu-ribu pertanyaan mulai menghantui benakknya. Airi lalu menceritakan hal tersebut pada Vio. Vio langsung menerka bak detektif kalau Dio itu adalah salah satu teman satu sekolah mereka. Apa yang diakatakan Vio ada benarnya juga, karena acara kemah ini hanya diketahui oleh warga SMP Violet saja.

Hari kedua. Aira dan Vio duduk santai sambil menikmati pemandangan alam bebas yang sangat indah. “Aduh!” kata Vio sambil mengelus pelipisnya. “Kenapa Ra?” tanya Aira terkaget. “Nih ada pesawat kertas nyamber kepalaku,” jawab Vio. Lalu Aira melihat pesawat kertas itu, di dalamnya terdapat sebuah tulisan. “Awan” itulah isi kertas tersebut. Spontan saja mereka berdua menoleh kelangit dan menerka-nerka apakah maksud dari tulisan tersebut. Kejadian pesawat kertas tersebut seolah sudah diatur oleh Dio. Karena lagi-lagi Dio menanyakan apakah pesawatnya sudah sampai pada Aira atau belum. Aira dan Vio semakin bingung dibuatnya.

Mawar putih yang sangat indah tergeletak begitu saja diantara bebatuan. Di sekeliling jalan menuju sungai bahkan tidak terlihat satu pun tanaman bunga mawar. “Bagaimana bisa bunga ini ada di sini?” tanya Aira pada Vio sambil mengedarkan pandangannnya ke sekeliling. “Yah mana aku tau. Aneh banget ya?” jawab Vio. “Dio!” teriak mereka berdua kompak. Semua keanehan ini memang seolah sudah diatur oleh seseorang, yaitu Dio. Semakin hari Aira semakin penasaran, siapa Dio sebenarnya.

Hari keempat disaat Aira sangat bersemangat untuk menemukan benda apa lagi yang akan Dio berikan padanya, justru Aira tidak menemukan apa pun. Rasa penasarannya itu semakin bertambah. Ketika malam api unggun dimulai ada salah seorang siswa yang memberinya selembar kertas yang dipenuhi tulisan @. Semula Aira merasa bingung, tapi menit berikutnya ia sudah bisa menebak kalau kertas itu dari Dio. Setitik kebahagiaan menyelimuti hatinya, ia pikir ia akan segera bisa mengetahui siapa Dio sebenarnya dengan menanyakannya pada siswa tersebut. Tapi ternyata dugaannya salah. Ia tidak berhasil mendapatkan informasi apa pun dari siswa itu. “Siapa kamu sebenarnya?” tanya Aira dengan nada marah. “A…aku aku Indra,” katanya terbata-bata. Ketegangan mulai terjadi, karena Vio ikut memarahi siswa itu. Tapi ketegangan itu langsung mencair ketika Indra menjelaskan yang sebenarnya. “Aku enggak tau apa-apa tentang kertas itu. Aku menemukannya di depan tendaku bersama dengan secarik surat yang menyuruhku agar mengantarkan kertas itu padamu, jadi kuantarkan saja padamu,” jelasnya. Wajah Aira dan Vio memerah, karena mereka sudah salah paham dan ternyata mereka menjadi tontonan para penghuni tenda. Akhirnya mereka berdua meminta maaf pada Indra karena kesalah pahaman tersebut.

Pagi-pagi sekali Aira dan Vio sudah bangun, karena mereka ingin siap-siap untuk melakukan penjelajahan bersama siswa lainnya. Tapi, baru saja mereka keluar dari tenda mereka sudah menemukan kertas berwarna hitam di depan tenda. “Kertas hitam bertuliskan night itu pasti dari Dio,” pikir Aira. Setelah semua siswa siap mereka pun melakukan penjelajahan. Berdasarkan undian, Aira dan Vio berada pada kelompok yang berbeda. Selama penjelajahan Aira terus saja memikirkan teka-teki yang diberikan Dio. Saking seriusnya memikirkan itu, ia tidak memerhatikan temannya sampai-sampai ia tersesat. Lelah mulai menghampiri tubuhnya. Rasa takut, lelah, penasaran semua menjadi satu. Ia sudah ‘tak mampu berjalan lagi, lalu ia pingsan. Setelah kegiatan penjelajahan selesai barulah teman-temannya menyadari hilangnya Aira, lalu melaporkannya pada guru. Semua siswa dan para guru melakukan pencarian di sekitar rute penjelajahan, tapi hasilnya nihil. Pencarian pun dihentikan, karena hari sudah mulai larut. Baru saja salah seorang guru berniat memberi tahu orang tua Aira tentang kejadian ini tapi Vio malah lebih dulu mendapat kabar dari orang tua Aira. Ternyata Aira sedang berada di rumah sakit, ada salah seorang siswa yang mengantarnya. Semua merasa lega, terutama Vio.

Sementara malam itu semua teman dan gurunya panik memikirkan keadaannya, di rumah sakit Aira belum juga sadarkan diri. Ia mengalami dehidrasi dan kelelahan karena berjalan terlalu jauh. Ia baru sadarkan diri keesokan harinya. Ketika ia sadar, dilihatnya langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. “Aku ada di mana?” tanyanya. “Kamu ada di rumah sakit Ra,” jawab Vio. Karena kejadian kemarin para siswa mengakhiri kemah satu hari lebih cepat dari seharusnya. Vio sangat khawatir dengan keadaan Aira, jadi ia langsung menjenguk Airi ke rumah sakit. Saat Aira menjelaskan penyebab ia tersesat, tiba-tiba ada seorang perawat yang mengantarkan kertas untuk Aira. Baru saja ia ingin menanyakan siapa yang memberi surat itu perawat muda itu sudah meninggalkan kamarnya. “Susun semua yang telah aku berikan,” itulah yang tertulis. Aira dan Vio saling berpandangan, mereka bingung dengan isi surat tersebut. “Jangan-jangan surat ini dari Dio. Tapi dari mana ia tahu aku dirawat di sini?,” kata Aira. “Entahlah. Coba saja kita susun dulu semuanya. Kamu masih menyimpannya kan? Di mana kamu menyimpannya? Biar aku yang mengambilkan,” introgasi Vio. Setelah Aira memeberi tahu dimana ia meletakkannya Vio langsung bergegas pergi mengambilnya. Selama Vio pergi Aira memperhatikan kertas itu, ternyata di balik kertas itu masih ada tulisan lagi. “Jangan biarkan waktu mengalahkanmu,” itulah isinya.

Setelah Vio datang mereka berdua sibuk menyusun benda-benda yang telah Dio berikan. Hari sudah semakin sore, Vio pamit untuk pulang karena ia belum sempat bertemu orang tuanya. Aira terus menerus memikirkan maksud dari teka-teki ini. “Hore!” teriak Aira setelah menemukan maksud dari teka-teki ini. Teka-teki ini ia pecahkan setelah setengah jam mencorat-coret sebuah kertas. Ternyata maksudnya adalah menyusun nama benda tersebut. Tam@n, itulah yang tersusun. T dari tulip, a dari awan, m dari mawar, @, dan n dari night. Datanglah ke taman tempatmu melihat awan, malam ini. Itulah maksud dari teka-teki itu.

Dalam keadaan kurang sehat Aira kabur dari rumah sakit dan langsung menuju ke taman dekat rumahnya. Di taman itulah ia sering melihat awan. Ia langsung duduk di bangku tempat biasanya ia melihat awan. Saat itu hari sudah mulai malam langit juga mendung. Udara di sekitar terasa dingin, karena tadi turun hujan. Satu jam sudah ia menunggu di taman itu. Kondisinya yang lemah mulai bertambah parah, karena udara dingin menyerang tubuhnya. Lagi-lagi ia pingsan.

Saat ia tersadar ia sudah berada di kamarnya. “Barusan Diovani yang membopongmu pulang, dan ia menitipkan surat ini untukmu. Kamu kan belum sehat, kenapa kamu kabur dari rumah sakit? Begini kan jadinya. Untung Diovani baik, jadi ia mau mengantarmu pulang,” oceh mama Aira. Aira langsung membaca surat itu. “Sebenarnya Dio adalah aku, Diovani. Semenjak pertama kali aku melihatmu datang ke rumahku bersama adikku, aku langsung menyukaimu. Maaf kalau kamu tidak menyukai caraku mengungkapkan perasaan ini. Aku hanya tidak mempunyai keberanian untuk berbicara langsung padamu” itulah isi suratnya. Aira langsung bengong. Jadi ternyata Dio adalah Diovani kakak dari Vio sahabatnya. Diovani adalah salah satu laki-laki yang ia kagumi karena kecerdasan dan kebaikkan hatinya. “Mungkin setelah kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada. Aku akan pergi untuk melanjutkan sekolah di luar negeri dan untuk melupakan perasaan ini”. Setelah membaca bagian terakhir surat itu Aira langsung pergi ke bandara.

Di bandara sangat ramai, karena sudah mendekati hari libur. Di tengah kerumunan orang ia berlari mencari Dio. Kesehatannya yang belum pulih benar membuat ia kelelahan dan putus asa. Ia duduk di kursi tunggu sambil menunduk dan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Tiba-tiba ia melihat sepasang sepatu di depannya. Lalu ia mendongak, terlihat wajah tampan Dio. Aira sempat tidak percaya sehingga ia mencibut pipinya. Dio yang melihat tingkahnya itu malah tersenyum geli. Dio memberanikan diri untuk memulai pembicaran. Ia mengatakan bahwa selama ini sebenarnya Vio yang sudah membantu aksinya. Tapi ia minta agar Aira tidak marah pada Vio, karena ia yang memaksa Vio membantunya dan agar mengatakannya padamu. Wajah Aira langsung cemberut. Dio kembali mengungkapkan perasaannya, wajah cemberut Aira langsung memerah. Tanpa Dio sangka ternyata selama ini Aira juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Kedua orang tua Aira sempat menyarankan agar ia melanjutkan SMA di luar negeri, tapi ia menolaknya mentah-mentah. Kehadiran Dio membuat ia menarik kembali tolakkannya itu, dan memutuskan untuk melanjutkan SMA di luar negeri. Akhirnya Dio membatalkan keberangkatannya, dan menunggu Aira sampai SMA untuk bersekolah bersama-sama. Aira SMA, sedangkan Dio kuliah. Orang tua Aira sudah sangat mempercayai Dio, jadi mereka tidak ragu-ragu untuk menitipkan anak mereka pada Dio.

“Entah kapan cinta itu datang dan pada siapa ia akan berlabuh hanya waktu yang bisa menjawab, bahkan cinta itu bisa datang pada sosok yang tidak kita duga” kalimat itulah yang kini tertanam di benak Aira.

Selesai :)